INILAH.COM, Bandung - Suherman (32), seorang pria asal Desa Nagrak Cibadak Kabupaten Sukabumi mengaku diculik makhluk Unidentified Flying Objects (UFO). Peristiwa itu terjadi 12 tahun silam. Seperti apa kisahnya?
Suherman adalah seorang karyawan swasta biasa. Ketika penculikan terjadi pada 1998 silam, pria lulusan SMP itu baru saja selesai menunaikan salat Tahajud. Seperti kebiasaannya, Suherman pergi keluar rumah untuk melihat langit yang menurutnya menjadi bukti keagungan Tuhan.
"Waktu melihat langit, saya melihat sebuah benda berbentuk cakram bersinar terang mendekat dengan kecepatan sangat tinggi. Kemudian, saya tidak sadarkan diri. Ketika sadar, saya sudah terbaring dalam sebuah ruangan aneh melengkung penuh kaca," kata Suherman saat dihubungi INILAH.COM, Sabtu (27/11).
Di dalam ruangan, Suherman mengaku melihat beberapa makhluk asing. Beberapa di antaranya menggiringnya ke sebuah ranjang dan kemudian membaringkannya.
"Makhluk itu berukuran tidak lebih dari 1 meter, kepalanya besar menonjol ke belakang, matanya tajam seperti kucing, hanya ada 2 lubang hidung,
mulutnya kecil, badannya kecil, kulitnya berwarna cokelat terbakar," tuturnya.
Suherman menambahkan, makhluk itu kebanyakan tidak memiliki rambut, meskipun ada juga yang memiliki sedikit rambut. Awalnya, kata dia, makhluk itu seperti telanjang, tetapi saat mendekat, ternyata memakai baju ketat berwarna abu-abu."Suara makhluk itu terdengar seperti serangga,” ujarnya.[dey/gin]
INILAH.COM, Bandung – Selama diculik makhluk Unidentified Flying Object (UFO), Suherman (32), pria asal Nagrak Kecamatan Cibadak Kabupaten Sukabumi mengaku diperiksa makhluk asing, yang ditemuinya di sebuah ruangan kaca berbentuk lengkung.
Saat itu, kata Suherman, ada tiga makhluk yang melakukan pemeriksaan menggunakan alat cahaya yang menyoroti bagian kepalanya.
“Ada dua makhluk yang melakukan pemeriksaan. Satu di sebelah kiri saya, dan satu lagi di sebelah kanan. Sementara satu orang lagi sepertinya menjadi asisten kedua makhluk tadi. Nah yang jadi asisten, tubuhnya lebih kecil. Mereka selalu memakai masker,” ungkap Suherman saat dihubungi INILAH.COM melalui telepon selulernya, Sabtu (27/11).
Selama alat tersebut menyinari kepalanya, Suherman, mengaku seolah diajak melihat kejadian masa lalunya, sejak kecil hingga dewasa. “Saya diajak melihat lagi masa lalu saya. Seperti sedang memutar video. Entah maksudnya apa,” tuturnya.
Suherman mengaku tak ingat berapa lama menjalani pemeriksaan. Namun saat diperiksa, ia sempat melihat keluar ruangan. "Dari ruangan itu, saya melihat keluar ada sebuah benda seperti bola berwarna biru. Kalau kita lihat di buku-buku pelajaran, seperti bumi,” ungkapnya.
Saat pemeriksaan, lanjut Suherman, makhluk asing itu saling berbicara. Namun dia tidak mengerti pembicaraannya karena suara makhluk tersebut seperti serangga berdengung.
“Tidak ada pelafalan seperti manusia.Saya sendiri tidak mengerti bahasa dan gerak mereka,” katanya. [dey/gin]
INILAH.COM, Bandung – Suherman (32), pria asal Nagrak Kecamatan Cibadak Kabupaten Sukabumi yang mengaku diculik Unidentified Flying Object (UFO), membuat geger orang-orang sekitarnya. Usai diculik, Suherman yang hanya mengenyam pendidikan hingga Madrasah Aliyah, mendadak pintar seperti pakar astronomi.
“Kata teman-teman, saya mendadak pintar. Padahal saya merasa biasa. Mungkin ini anugerah. Kata teman-teman saya, kepintaran saya hanya bisa diimbangi oleh scientis,” kata Suherman saat dihubungi INILAH.COM, Sabtu (27/11/2010).
Menurut Suherman, dirinya memang sempat menjalani pemeriksaan oleh tiga makhluk UFO. Namun dia tidak berpikir jika pemeriksaan itu untuk memberikannya ilmu pengetahuan.
Suherman hanya ingat, usai pemeriksaan langsung diturunkan ke tempat semula yakni di belakang rumahnya. Tak lama kemudian, benda mirip UFO tersebut melesat secara vertikal ke langit.
“Saya diturunkan melalui tangga cahaya. Sangat cepat sampai membuat saya terjatuh. Memang tidak sakit, tetapi lumayan membuat saya kaget.Lalu saya lihat, benda cakram itu melesat ke atas langit,” ujarnya.
Usai kejadian aneh yang menimpa dirinya, Suherman enggan menceritakannya kepada siapapun. Dia khawatir disangka gila oleh rekan-rekannya.
“Saya simpan cerita ini sampai 12 tahun lamanya. Baru pertama kali saya ceritakan kepada seorang pelukis di Bandung bernama Dedy Suardi yang tinggal di Dago atas,” ungkapnya.[dey/gin]