Peradaban manusia di atas dunia pernah musnah oleh karena “kiamat“,
berbagai macam bencana, termasuk gempa bumi, banjir, benda angkasa dari
luar (termasuk benturan meteor dan komet), timbul tenggelamnya lempeng
daratan, perubahan iklim yang mendadak dan sebagainya. Bencana dahsyat
telah melenyapkan peradaban dan sejumlah besar makhluk hidup menjadi
punah waktu itu, hanya menyisakan sangat sedikit peninggalan sejarah
yang masih ada. Manusia-manusia prasejarah yang berbeda dan peradaban
yang dimiliki akhirnya telah lenyap dari atas bumi. Peradaban tersebut
mengapa tersingkirkan? Kita dapat menemukan beberapa petunjuk melalui
gejala sosial dan dalam uraian orang-orang mahabijak.
Bencana
alam dan penyakit dalam skala besar merupakan sebab-musabab langsung
yang mengakibatkan musnahnya peradaban manusia prasejarah, namun mengapa
bisa timbul penyakit dan bencana alam yang mematikan secara
besar-besaran? Pemahaman yang ada sekarang dari orang-orang tidak dapat
menjelaskannya, dan mau tidak mau mereka dikembalikan sebagai gejala
alam. Gejala alam merupakan kesimpulan pasif yang diambil orang-orang
terhadap perubahan geologis dan astronomis yang tidak dapat dijelaskan.
Dipandang dari arti tertentu, ini merupakan suatu purbasangka yang
terpaksa.
Demi prakiraan dan mencegah berbagai macam bencana, manusia sekarang
(juga manusia prasejarah dulu) telah melakukan penelitian jangka panjang
terhadap berbagai macam bencana, mengemukakan beberapa teori, namun
kebanyakan ditekankan pada prakiraan bencana dan sisi perlawanannya,
menciptakan serangkaian peralatan dan berbagai cara, misalnya ramalan
angin topan, memantau gunung berapi, banjir dan sebagainya. Dalam
menghadapi bencana alam, orang-orang juga telah menggunakan berbagai
macam cara, misalnya membangun apartemen antigempa, mengontrol tanggul,
waduk, memperbaiki sungai, fasilitas pertolongan bencana darurat dan
lain-lain. Kebijakan-kebijakan yang sebagian besar tergolong pasif ini
memiliki efektivitas yang pasti terhadap bencana kecil, dapat mengurangi
korban jiwa. Namun, dalam skala yang lebih besar, di hadapan bencana
yang menghancurkan, misalnya mendadak daratan menurun, banjir dahsyat
yang menenggelamkan, benturan benda angkasa luar, perubahan iklim yang
mendadak, dan kekuatan manusia tampaknya sangat lemah, sulit untuk
menghindar, hanya bisa menerima apa adanya.
Demi untuk mengobati penyakit, manusia telah mengembangkan sejumlah
besar cara dan instrumen kedokteran yang kelihatannya canggih. Namun,
manusia sekarang semuanya harus mengakui, bahwa semua cara pengobatan
ada keterbatasannya. Lagi pula penyakit yang baru muncul dengan tiada
henti membuat manusia sulit untuk mengatasinya. Di hadapan wabah
penyakit menular yang muncul mendadak secara luas, sama sekali tidak
berdaya. Tidak bisa membuat obat yang manjur untuk mengatasinya.
Sebenarnya, apakah sebab-musabab pokok yang mengakibatkan
munculnya malapetaka?
Pertama, dari pemahaman tingkat rendah, orang-orang
telah mengetahui bahwa segala perkembangan hal ihwal memiliki periode
dan hukumnya. Manusia ada lahir, tua, sakit, dan mati: Perkembangan
masyarakat ada periodenya, perkembangan umat manusia kemungkinan juga:
Hal yang sama, berarti peradaban manusia kemungkinan juga bisa mengalami
perkembangan sampai peradaban tertinggi, bertahan, rusak hingga lenyap
dalam sebuah proses berkala yang berputar berulang-ulang.
Kedua, kini orang-orang telah mengetahui, bahwa manusia
kelewat batas menuntut pada alam sehingga mencemari bumi, mengakibatkan
lingkungan hidup manusia menjadi buruk. Mengeksploitasi terlalu banyak
air bawah tanah bisa mengakibatkan permukaan bumi tenggelam, menebang
hutan secara berlebihan bisa mengakibatkan erosi tanah, oasis berubah
menjadi gurun pasir, pembuangan gas kotor dan air limbah dalam jumlah
besar mengakibatkan parahnya polusi udara serta mutu air dan sebagainya,
bersamaan dengan majunya teknologi manusia, ruang hidup manusia malah
sedang menyusut, lingkungan ekologi terus memburuk, telah mencapai pada
tahap yang bahaya. Ini adalah sebuah proses yang lambat, ia dapat
menimbulkan bencana lokal, juga dapat menimbulkan bencana besar.
Ketiga, memahami dari tingkat yang lebih tinggi,
“alamiah” adalah tidak eksis, namun bencana alam juga ada sebabnya.
Namun, bukan karena manusia telah memiliki peradaban tinggi lalu musnah.
Mungkin ia adalah suatu akibat yang tak terlelakkan, dan bencana alam
hanya tercermin dalam masyarakat manusia kita ini. Manusia sama sekali
bukan berasal dari evolusi kera, jiwa manusia yang sebenarnya terjadi di
alam semesta. Alam semesta telah menciptakan kehidupan, sekaligus
menetapkan kehidupan (termasuk manusia) sesuai dengan standar sebagai
manusia. Apabila moralitas manusia telah menjadi bobrok dan hanya
memikirkan dirinya sendiri, alam juga akan menunjukkan tanda-tandanya.
Pada zaman dahulu, tingkat moralitas manusia secara umum sangat tinggi,
waktu itu tidak ada hukum apa pun, yang ada hanya sebuah hukum kerajaan,
apa yang dikatakan dan diperbuat manusia semuanya diukur dengan
moralitas, sedangkan hukum kerajaan pada dasarnya adalah sebuah hukum
yang bagaimana semestinya menjatuhkan hukuman pada semua individu yang
melanggar moral tersebut, dan bagaimana seyogianya memberikan
penghargaan jika telah mempertahankan moral. Dulu pejabat kabupaten yang
memutuskan perkara itu sangat sederhana, yaitu menggunakan moralitas
sebagai kriteria untuk memutuskan perkara, memutuskan benar atau salah,
kemudian memberikan penghargaan atau hukuman. Jelas, masa luhurnya
moralitas manusia, hukum adalah eksis untuk melindungi moral (prinsip
langit). Maka, orang yang bijaksana pada zaman dahulu sangat percaya
akan prinsip “Tuhan memberi kekuasaan kepada pemimpin”, bila
pemimpin melanggar prinsip langit, kekuasaan pemimpin juga akan ikut
jatuh.
sumber:http://luminousreload.wordpress.com/2009/11/12/penyebab-mengapa-dunia-pernah-mengalami-kiamat/


0 komentar:
Poskan Komentar